A. Hewan Vertebrata
1. Pengertian
Hewan vertebrata yaitu hewan yang bertulang belakang atau punggung. Memiliki struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan Invertebrata. Hewan vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak di memiliki oleh yang tidak bertulang punggung. Dalam memenuhi kebutuhannya, hewan vertebrata telah memiliki system kerja sempurna peredaran darah berpusat organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya.
Ciri-ciri tubuh hewan yang bertulang belakang:
1. Mempunyai tulang yang terentang dari balakang kepala sampai bagian ekor.
2. Mempunyai otak yang dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak.
3. Tubuh berbentuk simetris bilateral.
4. mempunyai kepala, leher, badan dan ekor walaupun ekor dan leher tidak mutlak ada contohnya pada katak.
Ciri alat tubuh hewan yang bertulang belakang sebagai berikut:
1. Mempunyai kelenjar bundar, endoksin yang menghasilkan hormon untuk pengendalian. Pertumbuhan dan proses fisiologis atau faal tubuh
2. Susunan saraf terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang
3. Bersuhu tubuh panas dan tetap (homoiternal) dan bersuhu tubuh dingin sesuai dengan kondisi lingkungan (poikiloternal)
4. Sistem pernapasan/terpirasi dengan paru-paru (pulmonosum) kulit dan insang operculum
5. Alat pencernaan memanjang mulai dari mulut sampai ke anus yang terletak di sebelah vertran (depan) dan tulang belakang
6. Kulit terdiri atas epidermis (bagian luar) dan endodermis (bagian dalam)
7. Alat reproduksi berpasangan kecuali pada burung, kedua kelenjar kelamin berupa ovalium dan testis menghasilkan sel tubuh dan sel sperma
Hewan bertulang belakang (vertebrata) ini terdiri atas kelas yaitu:
1. Kelas Pisces (Ikan)
2. Kelas Amphibi (Latin amphi = dua, bia = hidup)
3. Kelas Reftilia (Bahasa latin repare = merangkak/merayap)
4. Kelas Aves (Burung)
5. Kelas mamalia (Bahasa latin mamae artinya kelenjar buah dada, mamalia artinya hewan menyusui)
2. Filum-Filum Hewan Vertebrata
a. Kelas Pisces (Ikan)
Ciri utama Pisces sebagai berikut:
- Hewan berdarah dingin yang hidup di dalam air
- Bernapas dengan insang (operculum) dan di bantu oleh kulit
- Tubuh terdiri atas Kepala
- Rangka tersusun atas tulang sejati
- Jantung terdiri atas satu serambi dan satu bilik
- Tubuh ditutupi oleh sisik dan memiliki gurat sisi untuk menentukan arah dan posisi berenang
Pisces dapat di bagi menjadi beberapa ordo antara lain:
2. Ordo Apodes
Familia (1) : Angulidae
Species : Ikan panjang (Arguilia vulgaria)
Familia (2) : Muruenidae
3. Ordo Acthopterygi
Familia (1) : Parsidae
Species : Kakap (Lataes carca lifer)
Familia (2) : Muruenidae
4. Ordo Heterostonata
Species : Ikan lidah
5. Ordo Labysinthici
Famili : Analamtidal
Species : ikan bandeng (lates carca lifer)
Familia : scombridae
Species : tongkol (enthymus palamys)
6. Ordo Masacop Terygii
Famili (1) : chipeidae
Species : ikan bandeng (chonos-chonos)
Famili (2) : ikan salam (salmosalor)
7. Ordo Ostariophysi
Familia (1) : analamtidal
Species : kakap (lates carca lifer)
Famili : scmbridae
b. Kelas Amphibia
Ciri-ciri amphibia sebagai berikut:
- Dapat hidup di air dan di darat ataupun tempat-tempat yang lembab
- Disebut juga hewan yang mempunyai tempat hidup (habitat) di dua alam
- Hewan bernafas dengan paru-paru dan kulit. Telur dan berudu katak hidup di air kemudian setelah dewasa hidup di darat, berudu berbentuk seperti ikan yang bernafas dengan insang dan kulit, setelah masanya tumbuh kaki yang susut oleh kehidupan dan akhirnya ekor menghilang sementara itu insang berangsur-angsur menghilang dan digantikan oleh paru-paru kemudian katak menjadi dewasa.
- Jantung beruang tiga yaitu dua serambi dan satu bilik.
- Berkembang biak dengan bertelur dan pembuahan sel telur oleh sperma terjadi di luar tubuhnya (fertilisasi eksternal).
Amphibi dapat dibagi menjadi beberapa ordo:
1. Ordo bymnofora / opoda (amphibia tidak berkaki tetapi memiliki ekor)
Species : ular, cacing (ichtyo phisgentmosus)
2. Ordo anura/solienta (amphibia tidak berekor tetapi memiliki kaki)
Famili : Ranidae
Species : Katak buduk, katak hijau (Kamacun crivoras)
Familia : hyhidae
Species : katak pohon (hyla SP)
3. Ordo wodela / candata (amphibia yang berekor dan berkaki)
Familia : pretidae
Species : aning lumpru (necturus onaculanu)
Familia : crypto bran chidae
Species : solomonder air (ripto bronchus akeganiesis)
c. Kelas reftilia (hewan melata)
Ciri-ciri hewan melata adalah sebagai berikut:
- Kulit kering bersisik dari zat tanduk karena zat kertin
- Bernafas dengan paru-paru
- Berdarah dingin (porkoliokonal) yakni yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan
- Umumnya bersifat avivar (bertelur), contoh kadal, dan vivipar beranak, contohnya ular.
- Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua serambi dan dua bilik yang masih belum sempurna.
Reptilia dapat dibagi menjadi beberapa ordo antara lain:
1) Ordo crocodilia
Familia : crocodylidae
Species : buaya sedang (crocodyeus bifocatus), buaya besar (crocodyes porosus)
2) Ordo chelonia
Familia (1) : crocodylidae
Species : penyu (chelaina nydas)
Familia (2) : tryony chidae
Species : kuya (try ony x cartilaginews)
Familia (3) : testudinidae
Species : kura-kura (euora ambirinesis)
3) Ordo cacerilia
Familia (1) : cacertidae
Species : cicak (hemidacty frenatus)
Familia (2) : geckonocdae
Species : tokek (gecko monarchis)
Familia (3) : henoermatidae
Species : kadal (heloderma SP)
Familia : varanidae
Species : komodo (voronus komodensis)
biawak (voronus salvator
4) Ordo Aphidia
Contoh; ular sawah, ular kobra dan sebagainya
d. Kelas aves (burung)
Ciri utama aves sebagai berikut:
- Alat penglihatan, alat pendengaran dan alat suara sudah berkembang dengan baik
- Berdarah panas (homoioteral)
- Jantung terdiri dari empat ruang 2 serambi dan 2 bilik yang sudah berkembang dengan baik
- Pembuahan sel telur dan sperma / fertilisasi terjadi di dalam tubuh induk (fertilisasi internal)
- Terdapat sepasang testis, Sedangkan ovarium hanya satu dan tumbuh dengan baik di sebelah kiri.
Aves dapat dibagi menjadi beberapa ordo antara lain:
1) Ordo colombiforines
Familia : columbidal
Species : perkutut (geopilia striata)
2) Ordo coraciiformes
Familia : arcedinadae
Species : telengket (harcy concholm)
3) Ordo grana cares
Familia (1) : ardidae
Species : bangau (reptotilas javanicus)
Familia (2) : rassidal
Species : mordar (parphyrio albus)
4) Ordo nato tores
Familia (1) : laridae
Species : dara laut
Familia (2) : pamilirostros
Species : bebek / itik (anus koshos)
Familia (3) : sphe niscidae
Species : pinguin (aptenodytes SP)
5) Ordo rapaces
Familia (1) : fontanida
Species : alap-alap (falco papuanus)
Familia (2) : strigi dae
Species : burung hantu (suba kukua)
e. Kelas Mamalia
Ciri-ciri utama hewan mamalia sebagai berikut:
- Umumnya hidup di daratan, tetapi ada pula yang hidup di air seperti ikan paus, lumba-luma
- Berdarah panas
- Pada kulit terdapat kelenjar keringat dan kelenjar minyak
- Otak berkembang dengan baik
- Fertilisasi internal
- Bernafas dengan paru-paru
- Terdapat 4 ruang jantung yang sempurna
Macam-macam ordo hewan mamalia antara lain:
1) Ordo dactyla
Species : Topis (clocidura marina)
Badak Jawa (rhino cerassoondaicus)
2) Ordo insectivora
Species : cecurut (cocidura mosina)
Tupai (tupaja javarita)
3) Ordo phalidata
Species : trenggiling (tubuh bersisik)
4) Ordo chiroptera
Species : kelelawar (micro chiroptera SP)
Kalong (megachiroptera SP)
5) Ordo marsupiala
Species : kucing (fell is catus)
Singa (fell is lion)
Harimau (fell is tigris)
Serigala (canislupus)
6) Ordo marsopialia
Species : kanguru (macropus)
Kuskus (plalanger)
7) Ordo prosboscidae
Species : gajah (elephan indicus)
Gajah Africa (loxoder africanus)
Ordo artidactyea
Species : kerbau (bubalus-bubalus)
Banteng (basssonduicus)
Kambing (capra faleoheri)
3. Sistem Pencernaan Pada Hewan Vertebrata
Proses pencernaan makanan dapat terjadi secara mekanik dan kimia. Pencernaan mekanik adalah proses yang mengubah makanan menjadi bagian-bagian yang kecil. Sedangkan pencernaan secara kimia adalah suatu proses pengubahan makanan dengan bantuan enzim pencernaan.
1. Sistem Pencernaan pada ikan
Misalnya, ikan mas mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus dan anus. Ikan mempunyai lidah yang pendek terdapat pada dasar mulut, lidah itu tidak dapat digunakan seperti lidah pada hewan lainnya. Ikan mas tidak mempunyai kelenjar ludah tetapi mempunyai kelenjar lendir dari mulutnya. Lambung merupakan pelebaran dari saluran pencernaan
2. Sistem pencernaan pada amphibia
Sebagai contohnya adalah katak mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, kloaka.
Untuk membantu menelan makanan, yaitu makanan tersebut dicampur dengan ludah yang dihasilkan oleh kelenjar ludah. Pencernaan makanan berlangsung di dalam lambung katak mempunyai kelenjar pencernaan yaitu hati dan pankreas.
3. Sistem pencernaan pada reptilia
Seperti dicontohkan kadal yang mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Kadal mempunyai hati dan pancreas sebagai kelenjar pencernaan.
Lambung pada reptilia bentuknya sesuai dengan bentuk badannya, misalnya lambung kura-kura berbentuk agak bulat.
4. Sistem pencernaan pada burung
Sebagai contoh burung merpati mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan kloaka. Burung mempunyai hati dan pancreas, keduanya merupakan kelenjar pencernaan yang berada di luar saluran pencernaan.
5. Sistem pencernaan pada mamalia
Hewan mamalia misalnya sapi mempunyai lambung yang tersusun dari empat bagian yaitu perut besar (rimen), perut jala (reticulum) perut kilab (omosum), dan perut masam (obomasum). Makanan yang berupa rumput dan sebangsanya dari mulut melewati kerongkongan masuk ke dalam perut besar, dari perut besar makanan kembali ke mulut untuk dimumah, setelah dimumah makanan ditelan dan masuk ke dalam perut jala, kemudian ke perut kilab dan akhirnya ke perut masam.
B. Hewan Invertebrata
1. Pengertian
Hewan Invertebrata adalah yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan invertebrata.
2. Filum-filum hewan invertebrata
a. Filum frotozoa
Frotozoa merupakan hewan bersel satu yang hidup di dalam air, protozoa memakan tumbuhan dan hewan, frotozoa berkembang biak secara reproduksi unseksual atau vegetatif dengan cara membelah diri dan dengan cara seksuan / generatif konjugasi.
Filum frotozoa terbagi menjadi beberapa kelas:
1) Kelas hewan berambut getar (cikata)
2) Kelas hewan berkaki semu (rhizopoda)
3) Kelas hewan berspora (sporozoa)
4) Kelas hewan berbulu cambuk (flogellato)
b. Filum forifera (hewan berfori)
Forifera merupakan hewan air dan hidup di laut bentuk tubuh seperti tumbuhan yang melekat pada suatu dasar laut, jadi forifera dapat berpindah tempat dengan bebas, tubuh forifera seperti tabung yang memiliki banyak pori (lubang kecil pada sisinya dan mempunyai rongga di bagian dalam) forifera dapat berkembang biak dengan cara generatif dan vegetatif.
Forifera terdiri dari tiga kelas:
1) Kelas corcorea
Terdiri dari zat kapur (spikula) dan hidup di laut yang dangkal, contoh; seghpha SP, charsarina SP
2) Kelas hexactinelida
Terdiri atas zat kersik dan hidup di laut yang dalam. Contohnya pnerorepa SP
3) Kelas demospangia
Tubuh lunak bahkan tidak mempunyai rangka, contoh spongia SP
c. Filum coelentrata (hewan berongga)
Coelentrata berasal dari kata coilos (berongga) dan entron (usus) coelentrata mempunyai dua macam bentuk yakni bentuk pasif yang menempel pada suatu dasar dan tidak berpindah.
Coelentrata terdiri dari 3 kelas;
1) Kelas anthozoa
2) Kelas hydrozoa
3) Kelas scyphozoa
d. Filum platyhelminthes (cacing pipih)
Kata platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, kata plays (pipih) dan hemlines (cacing). Platyhelminthes adalah yang mempunyai pipih. Hewan golongan ini mempunyai tubuh simetris bilateral, (kedua sisi sama), tubuh lunak dan tidak bersegmen (ruas) tetapi tidak mempunyai peredaran darah.
Platyhelminthes terbagi ke dalam tiga kelas yaitu:
1) Kelas turbellaria (cacing berambut getar)
2) Kelas trematoda (cacing isap)
3) Kelas cestroda (cacing pita)
e. Filum Mollusca (hewan lunak)
Sesuai dengan namanya, hewan lunak mempunyai tubuh lunak yang dilindungi oleh cangkang dari bahan kalsium (kapur) mollusca bersifat hermoporit, mempunyai sistem pencernaan, sistem pernapasan, dan sistem pengeluaran
Mollusca dibedakan menjadi 4 kelas;
1) Kelas lamilli brancuiata (golongan karang dan tiram)
2) Kelas gastropoda (golongan siput)
3) Kelas cephalopoda (golongan cumi-cumi)
4) Kelas amphineura
f. Filum enchinodermata (hewan berkulit duri)
Kata di atas berasal dari bahasa Yunani echimos (landak) dan derma (kulit) semua hewan yang termasuk filum echinodermata biasanya hidup di laut, bentuk tubuhnya simetris radial (sisi tubuh melingkar sama). Mempunyai sistem ameudakral (sistem pompa air). Rangka dalam berkapur dan memiliki banyak duri yang menonjol. Daya generasinya amat besar.
Filum enchinodermata terdiri dari 5 kelas yaitu:
1) Kelas bintang laut (asteroidal)
2) Kelas landak laut (echinoidal)
3) Kelas bintang laut (opiuroidal)
4) Kelas lilin laut (crinoidal)
5) Kelas teripong (holothuroidae)
g. Filum antropoda
Filum ini mempunyai Jumlah species yang paling besar dibandingkan filum-filum lain. Tubuh dan kaki beruasa-ruas dan simetris bilateral, rangka luar mengandung zat kimia. Antropoda mempunyai peredaran darah, tetapi darahnya tidak berwarna, pertumbuhannya lama mengalami metamorfosis (perubahan bentuk).
Filum antropoda terdiri atas:
1) Kelas serangga (insecta)
2) Kelas laba-laba (arachoidae)
3) Kelas udang-udangan (erustacea)
4) Kelas lipan (mynapoda)
3. Sistem Pencernaan Pada Hewan Invertebrata
a. Sistem pencernaan pada hewan protozoa
Misalnya pada amoeba merupakan hewan bersel satu segala aktivitas hidupnya terjadi di dalam sel itu sendiri. Demikian juga pencernaan makanan terjadi di dalam sel, disebut pencernaan indra sel.
Pada waktu amoeba mendapatkan makanan segera amoeba membentuk kaki semu yang mengarah kepada makanan selanjutnya dikelilingi kaki semu kemudian makanan tersebut dibawa ke protoplasma. Dalam protoplasma yang mengandung makanan yang menghasilkan enzim pencernaan. Dalam rongga makanan tersebut terjadi pencernaan makanan. Makanan yang telah dicerna yang berupa sari makanan diserap dari sisa-sisa makanan dan dikeluarkan dari dalam tubuh.
b. Sistem pencernaan pada golongan hermes
Misalnya pada cacing tanah mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, tembolok, empedal, usus dan anus.
Bagian depan kerongkongan agak membesar disebut paring yang berfungsi untuk mengisap makanan dari mulut dan membasahinya dengan lendir. Makanan cacing tanah berupa humus yang terdapat di tanah yang bersifat asam, dikelilingi kerongkongan terhadap tiga pasang kelenjar yang menghasilkan zat kapur yang dapat menetralkan sifat asam makanannya.
c. Sistem pencernaan pada hewan insecta
Serangga misalnya belalang mempunyai tembolok berfungsi untuk menyimpan makanan sementara di sebelah bawah tembolok terdapat kelenjar ludah yang menghasilkan ludah. Ludah tersebut dialirkan melalui saluran induk ke dalam rongga mulut. Dari tembolok makanan masuk ke dalam empedal dan dalam empedal makanan dihancurkan, selanjutnya makanan diteruskan ke dalam lambung. Di bagian depan lambung terdapat enam pasang usus buntu yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan. Makanan yang tidak dicerna diserap di dalam lambung. Sisa-sisa makanan dari usus melalui peletum dikeluarkan melalui anus.
Kamis, 03 Maret 2011
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN
A. TUMBUHAN TIDAK BERPEMBULUH
Tumbuhan tidak berpembuluh (non-trakeofita) merupakan kelompok tumbuhan yang dikenal dengan lumut. Lumut ini nantinya masih dibagi-bagi lagi menjadi tiga divisi. Secara umum, lumut memiliki karakter berupa akar, batang, dan daun yang tidak bisa dibedakan secara jelas.
Tidak adanya jaringan pengangkut atau pembuluh menyebabkan tumbuhan ini mengambil air dari lingkungan secara difusi. Difusi dilakukan melalui sel-sel diseluruh bagian tubuhnya. Hal itulah yang menyebabkan tumbuhan lumut perlu hidup ditempat-tempat yang lembab. Selain itu, struktur sperma yang mempunyai flagel sangat memerlukan keberadaan air untuk mencapai gamet betina saat terjadi fertilisasi.
Kelompok tumbuhan tidak berpembuluh memiliki suatu siklus hidup yang disebut dengan pergiliran keturunan (alternation of generation). Pergiliran keturunan tersebut terdiri dari fase sporofit dan gametofit.
Lumut diklasifikasikan menjadi tiga divisi, yaitu lumut daun (Briofita/Bryophyta), lumut hati (Hepatofita/Hepatophyta), dan lumut tanduk (Antoserofita/Antocerophyta).
1. Lumut Daun (Briofita)
Lumut daun sering dikenal dengan moss. Lumut daun memiliki morfologi yang lebih mirip dengan tumbuhan tinggi. Meskipun tubuhnya tersusun atas bagian yang mirip tumbuhan tinggi, struktur internalnya sangat jauh berbeda. Contoh lumut daun adalah Sphagnum.
2. Lumut Hati (Hepatofita)
Lumut hati disebut juga sebagai liverwort. Tubuh lumut hati berbentuk pipih dan tidak sejelas lumut daun. Rhizoid akan muncul pada bagian bawah dari lobus tubuh yang menempel pada substrat. Lumut hati memiliki ciri khas berupa gemmae, yaitu suatu struktur reproduksi aseksual.
Gemmae terletak diatas thalus (tubuh) dari lumut daun. Gemmae memiliki bentuk seperti mangkuk, sehingga sering dinamakan dengan gemma cup. Jika terkena air hujan, sel-sel pada bagian atas gemmae akan terpelanting. Sel-sel tersebut pada substrat yang cocok akan tumbuh menjadi individu baru.
3. Lumut Tanduk (Anthoserofita)
Anthoserofita tidak berbeda jauh dengan lumut hati. Perbedaan lumut tanduk dengan lumut hati adalah sporofitnya yang membentuk kapsul memanjang dengan hamparan gametofit seperti karpet yang lebar. Dalam Campbell et al. (2004), lumut tanduk berdasarkan asam nukleatnya memiliki kekerabatan hubungan yang dekat dengan tumbuhan berpembuluh (trakeofita/tumbuhan vaskuler).
B. TUMBUHAN BERPEMBULUH
Tumbuhan berpembuluh memiliki karakter adanya pembuluh angkut pada tubuhnya. Pembuluh angkut tersebut meliputi xilem dan floem. Xilem merupakan jaringan pembuluh yang berfungsi mengankut air dan mineral dari substrat (tanah dan batuan atau perairan) menuju bagian tubuh tumbuhan. Setelah terjadi proses fotosintesis, floem berfungsi untuk mengedarkan hasil fotosintesis dari daun menuju seluruh bagian tumbuhan.
Ada istilah tumbuhan berkormus yang juga sering dipakai. Tumbuhan berkormus merupakan tumbuhan yang memiliki akar, batang, dan daun sejati. Berbeda dengan tumbuhan lumut (tidak berkormus), kelompok tumbuhan ini memiliki partisi akar, batang, daun meliputi struktur dan fungsi yang jelas.
Habitat tumbuhan berpembuluh sangat luas. Tumbuhan berpembuluh dapat dijumpai dilautan hingga pegunungan tinggi seperti Gunung Mahameru atau bagian tiga-perempat Pegunungan Jayawijaya. Tumbuhan berpembuluh di laut misalnya lamun, sedangkan tumbuhan yang ada didaerah tinggi contohnya bunga edelweis. Di daerah perairan tawar pun kita sering menemukan tumbuhan yang mengapung di air, misalkan eceng gondok (Eichornia crassipes).
Tumbuhan tinggi ada juga yang hidup menumpang pada tumbuhan lain. Ada yang sampai mengambil nutrisi dari pohon inang (parasit), seperti benalu dan Rafflesia arnoldi. Ada juga yang tidak mengambil nutrien dari tubuh tumbuhan yang ditumpanginya, atau sering dinamakan dengan epifit. Tumbuhan epifit antara lain adalah berbagai jenis anggrek dan paku. Salah satu contoh paku yang epifit adalah Asplenium nidus (paku sarang burung).
Tumbuhan berpempuluh terbagi atas dua kelompok besar, yaitu tumbuhan berpembuluh tak berbiji dan tumbuhan berpembuluh yang menghasilkan biji.
1. Tumbuhan Berpembuluh tak Berbiji
Tumbuhan berpembuluh tak berbiji meilputi likofita, paku ekor kuda, dan pakis. Kelompok tumbuhan ini diperkirakan merupakan tumbuhan dominan pada masa Carboniferous. Beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa ketiga kelompok tumbuhan tersebut berasal dari turunan mulai dari zaman Carboniferous (Campbell et al., 2004).
Tumbuhan berpembuluh tak berbiji juga mengalami pergiliran keturunan (alternation of generation). Fase sporofit pada kelompok ini lebih lama daripada fase gametofitnya.
Dalam pembahasan kali ini, kelompok tumbuhan berpembuluh tak berbiji dibagi menjadi tiga macam, yaitu Likofita (Lycophyta), paku ekor kuda (Sfenofita/Sphenophyta), serta Paku dan kerabat paku (Pteridophyta) (Campbell et al., 2004).
a. Likofita
Likofita merupakan kelompok yang dianggap paling kuno dari divisi-divisi lainnya. Likofita masih dianggap menyerupai struktur pada lumut daun, akan tetapi struktur internalnya menyerupai tumbuhan tingkat tinggi.
b. Sfenofita
Sfenofita sering dikenal dengan sebutan paku ekor kuda. Ciri-ciri dari paku ekor kuda adalah adanya ruas-ruas dari batang yang muncul dari tanah. Spora pada bagian ujung batang memiliki bentuk seperti kerucut. Salah satu contoh dari paku ekor kuda adalah Equisetum debile.
c. Pteridofita
Divisi pteridofita merupakan divisi terbesar dengan anggota lebih dari 12.000 spesies. Pteridofita terdiri atas paku dan kerabat paku. Kedua kelompok tersebut dibedakan berdasarkan adanya perbedaan morfologi daun muda. Ujung daun muda pada kelompok paku memiliki penggulungan, yang disebut dengan circinatus. Di lain pihak, kelompok kerabat paku (fern allies) tidak memiliki penggulungan daun muda.
Contoh dari pteridofita sangat mudah kita jumpai sehari-hari. Beberapa contoh diantaranya adalah paku tiang yang dapat mencapai tinggi lebih dari 10 meter di hutan belantara. Paku tiang lebih banyak ditemukan didaerah sekitar sumber perairan. Akan tetapi, belum ada penelitian yang menunjukkan adanya korelasi antara keberadaan sumber air dengan pertumbuhan paku tiang.
[Insert Photo Paku Tiang]
2. Tumbuhan Berpembuluh Berbiji (Tumbuhan Berbiji)
Semua tumbuhan yang menghasilkan biji termasuk tumbuhan berpembuluh, sehingga sering disebut tumbuhan berbiji saja. Biji yang menjadi ciri khas kelompok tumbuhan ini merupakan salah satu mekanisme perkembangbiakan yang dianggap maju atau canggih pada tumbuhan.
Biji terbentuk melalui proses fertilisasi antara sel gamet jantan dan betina. Jika dilihat secara evolusi, maka biji merupakan struktur pengganti spora. Akan tetapi, secara struktural biji merupakan struktur yang sangat kompleks.
Tumbuhan berbiji dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae).
Gymnospermae. Tumbuhan berbiji terbuka memiliki ciri khas berupa biji yang terbuka ke atmosfer. Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya struktur pelindung atau ruangan perkembangan biji yang disebut sebagai ovarium. Pembentukan biji pada tumbuhan berbiji terbuka terjadi melalui pembuahan tunggal, yaitu pertemuan antara sel kelamin jantan dan betina sebanyak satu kali.
Tumbuhan berbiji terbuka dibagi menjadi empat divisi, yaitu Cycadophyta (Sikadofita), Ginkgophyta (Ginkgofita), Coniferophyta (Koniferofita), dan Gnetophyta (Gnetofita).
1. Cycadophyta
Tumbuhan yang termasuk dalam divisi Cycadophyta memiliki ciri khas bentuk yang menyerupai palem. Batang tidak memiliki cabang dengan tangkai daun yang mendukung daun majemuk menyirip. Struktur reproduksi berupa strobilus. Ada juga yang menamakan Cycadophyta sebagai palem sagu.
Contoh dari divisi ini adalah pakis haji (Cycas rumphii).
[Insert Picture Cycas rumphii]
2. Ginkgophyta
Ginkgophyta merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki ciri khas daun berbentuk kipas dengan pertulangan daun yang dikotom (bercabang dua-dua). Ginkgophyta hanya terdiri dari satu spesies, yaitu Ginkgo biloba. Spesies ini sangat terkenak karena banyak digunakan sebagai bahan pembuat shampoo.
[Insert Picture Ginkgo biloba]
3. Coniferophyta
Conifer merupakan kelompok tumbuhan yang saat ini paling dominan di dunia. Anggota konifer merupakan penyusun hutan berdaun jarum. Hutan tersebut sangat luas dan didominasi oleh kelompok konifer berdaun jarum. Biasanya, hutan tersebut dinamakan dengan bioma taiga.
Reproduksi konifer, misalkan pinus, menggunakan organ yang dinamakan dengan strobilus. Strobilus terdiri dari dua macam, yaitu strobilus jantan dan betina. Strobilus jantan pada pinus berukuran kecil dibandingkan strobilus betina. Strobilus betina selain memiliki ukuran yang besar, juga memiliki struktur strobilus yang keras.
Salah satu contoh konifer adalah Pinus merkusii. Pinus merkusii merupakan salah satu komponen hutan tanam di Indonesia. Getah yang diproduksi oleh pinus dapat diambil dan digunakan sebagai bahan untuk membuat cat.
[Insert picture strobilus of Pinus merkusii]
4. Gnetophyta
Gnetophyta merupakan divisi yang dianggap paling maju diantara keempat divisi pada gymnospermae. Struktur anatomi yang mendekati angiospermae menjadi pertimbangan hal tersebut. Kemiripan tersebut terletak pada struktur pembuluh.
Gnetophyta tersebar dari daerah gurun hingga daerah dekat hutan hujan tropis. Genus Welwitschia merupakan semak gurun yang cukup populer di Afrika. Melinjo (Gnetum gnemon) sepintas tidak berbeda dengan angiospermae.
[Insert Picture Gnetum Gnemon] [Insert Picture Welwitschia]
Angiospermae. Angiospermae dikelompokkan berdasarkan persamaan adanya karpel atau daging buah yang menjadi pembungkus biji. Angiospermae merupakan kelompok tumbuhan yang paling beragam. Ada sekitar 250.000 spesies tumbuhan berbiji tertutup.
Tumbuhan berbiji tertutup sering dinamakan dengan antophyta (antofita), yaitu kelompok tumbuhan berbunga. Hal tersebut disebabkan karena organ reproduksi yang didukung oleh bunga. Bunga merupakan organ yang berfungsi untuk membantu proses penyerbukan. Bunga berperan sebagai penarik organisme yang berperan sebagai polinator (pembantu penyerbukan).
Bunga memiliki berbagai mekanisme untuk menarik perhatian polinator. Nektar merupakan mekanisme utama yang membuat berbagai polinator tertarik. Selain nektar, polinator juga memerlukan berbagai hal dari bunga. Salah satu contoh yang menarik adalah serangga yang ada pada pohon Ficus hispida. Bunga pada pohon ini terletak pada suatu struktur mirip periuk, sehingga serangga yang membutuhkan tempat menaruh telur akan masuk ke dalam periuk tersebut. Pergerakan di dalam periuk tersebut menyebabkan penyerbukan terjadi.
Tumbuhan tidak berpembuluh (non-trakeofita) merupakan kelompok tumbuhan yang dikenal dengan lumut. Lumut ini nantinya masih dibagi-bagi lagi menjadi tiga divisi. Secara umum, lumut memiliki karakter berupa akar, batang, dan daun yang tidak bisa dibedakan secara jelas.
Tidak adanya jaringan pengangkut atau pembuluh menyebabkan tumbuhan ini mengambil air dari lingkungan secara difusi. Difusi dilakukan melalui sel-sel diseluruh bagian tubuhnya. Hal itulah yang menyebabkan tumbuhan lumut perlu hidup ditempat-tempat yang lembab. Selain itu, struktur sperma yang mempunyai flagel sangat memerlukan keberadaan air untuk mencapai gamet betina saat terjadi fertilisasi.
Kelompok tumbuhan tidak berpembuluh memiliki suatu siklus hidup yang disebut dengan pergiliran keturunan (alternation of generation). Pergiliran keturunan tersebut terdiri dari fase sporofit dan gametofit.
Lumut diklasifikasikan menjadi tiga divisi, yaitu lumut daun (Briofita/Bryophyta), lumut hati (Hepatofita/Hepatophyta), dan lumut tanduk (Antoserofita/Antocerophyta).
1. Lumut Daun (Briofita)
Lumut daun sering dikenal dengan moss. Lumut daun memiliki morfologi yang lebih mirip dengan tumbuhan tinggi. Meskipun tubuhnya tersusun atas bagian yang mirip tumbuhan tinggi, struktur internalnya sangat jauh berbeda. Contoh lumut daun adalah Sphagnum.
2. Lumut Hati (Hepatofita)
Lumut hati disebut juga sebagai liverwort. Tubuh lumut hati berbentuk pipih dan tidak sejelas lumut daun. Rhizoid akan muncul pada bagian bawah dari lobus tubuh yang menempel pada substrat. Lumut hati memiliki ciri khas berupa gemmae, yaitu suatu struktur reproduksi aseksual.
Gemmae terletak diatas thalus (tubuh) dari lumut daun. Gemmae memiliki bentuk seperti mangkuk, sehingga sering dinamakan dengan gemma cup. Jika terkena air hujan, sel-sel pada bagian atas gemmae akan terpelanting. Sel-sel tersebut pada substrat yang cocok akan tumbuh menjadi individu baru.
3. Lumut Tanduk (Anthoserofita)
Anthoserofita tidak berbeda jauh dengan lumut hati. Perbedaan lumut tanduk dengan lumut hati adalah sporofitnya yang membentuk kapsul memanjang dengan hamparan gametofit seperti karpet yang lebar. Dalam Campbell et al. (2004), lumut tanduk berdasarkan asam nukleatnya memiliki kekerabatan hubungan yang dekat dengan tumbuhan berpembuluh (trakeofita/tumbuhan vaskuler).
B. TUMBUHAN BERPEMBULUH
Tumbuhan berpembuluh memiliki karakter adanya pembuluh angkut pada tubuhnya. Pembuluh angkut tersebut meliputi xilem dan floem. Xilem merupakan jaringan pembuluh yang berfungsi mengankut air dan mineral dari substrat (tanah dan batuan atau perairan) menuju bagian tubuh tumbuhan. Setelah terjadi proses fotosintesis, floem berfungsi untuk mengedarkan hasil fotosintesis dari daun menuju seluruh bagian tumbuhan.
Ada istilah tumbuhan berkormus yang juga sering dipakai. Tumbuhan berkormus merupakan tumbuhan yang memiliki akar, batang, dan daun sejati. Berbeda dengan tumbuhan lumut (tidak berkormus), kelompok tumbuhan ini memiliki partisi akar, batang, daun meliputi struktur dan fungsi yang jelas.
Habitat tumbuhan berpembuluh sangat luas. Tumbuhan berpembuluh dapat dijumpai dilautan hingga pegunungan tinggi seperti Gunung Mahameru atau bagian tiga-perempat Pegunungan Jayawijaya. Tumbuhan berpembuluh di laut misalnya lamun, sedangkan tumbuhan yang ada didaerah tinggi contohnya bunga edelweis. Di daerah perairan tawar pun kita sering menemukan tumbuhan yang mengapung di air, misalkan eceng gondok (Eichornia crassipes).
Tumbuhan tinggi ada juga yang hidup menumpang pada tumbuhan lain. Ada yang sampai mengambil nutrisi dari pohon inang (parasit), seperti benalu dan Rafflesia arnoldi. Ada juga yang tidak mengambil nutrien dari tubuh tumbuhan yang ditumpanginya, atau sering dinamakan dengan epifit. Tumbuhan epifit antara lain adalah berbagai jenis anggrek dan paku. Salah satu contoh paku yang epifit adalah Asplenium nidus (paku sarang burung).
Tumbuhan berpempuluh terbagi atas dua kelompok besar, yaitu tumbuhan berpembuluh tak berbiji dan tumbuhan berpembuluh yang menghasilkan biji.
1. Tumbuhan Berpembuluh tak Berbiji
Tumbuhan berpembuluh tak berbiji meilputi likofita, paku ekor kuda, dan pakis. Kelompok tumbuhan ini diperkirakan merupakan tumbuhan dominan pada masa Carboniferous. Beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa ketiga kelompok tumbuhan tersebut berasal dari turunan mulai dari zaman Carboniferous (Campbell et al., 2004).
Tumbuhan berpembuluh tak berbiji juga mengalami pergiliran keturunan (alternation of generation). Fase sporofit pada kelompok ini lebih lama daripada fase gametofitnya.
Dalam pembahasan kali ini, kelompok tumbuhan berpembuluh tak berbiji dibagi menjadi tiga macam, yaitu Likofita (Lycophyta), paku ekor kuda (Sfenofita/Sphenophyta), serta Paku dan kerabat paku (Pteridophyta) (Campbell et al., 2004).
a. Likofita
Likofita merupakan kelompok yang dianggap paling kuno dari divisi-divisi lainnya. Likofita masih dianggap menyerupai struktur pada lumut daun, akan tetapi struktur internalnya menyerupai tumbuhan tingkat tinggi.
b. Sfenofita
Sfenofita sering dikenal dengan sebutan paku ekor kuda. Ciri-ciri dari paku ekor kuda adalah adanya ruas-ruas dari batang yang muncul dari tanah. Spora pada bagian ujung batang memiliki bentuk seperti kerucut. Salah satu contoh dari paku ekor kuda adalah Equisetum debile.
c. Pteridofita
Divisi pteridofita merupakan divisi terbesar dengan anggota lebih dari 12.000 spesies. Pteridofita terdiri atas paku dan kerabat paku. Kedua kelompok tersebut dibedakan berdasarkan adanya perbedaan morfologi daun muda. Ujung daun muda pada kelompok paku memiliki penggulungan, yang disebut dengan circinatus. Di lain pihak, kelompok kerabat paku (fern allies) tidak memiliki penggulungan daun muda.
Contoh dari pteridofita sangat mudah kita jumpai sehari-hari. Beberapa contoh diantaranya adalah paku tiang yang dapat mencapai tinggi lebih dari 10 meter di hutan belantara. Paku tiang lebih banyak ditemukan didaerah sekitar sumber perairan. Akan tetapi, belum ada penelitian yang menunjukkan adanya korelasi antara keberadaan sumber air dengan pertumbuhan paku tiang.
[Insert Photo Paku Tiang]
2. Tumbuhan Berpembuluh Berbiji (Tumbuhan Berbiji)
Semua tumbuhan yang menghasilkan biji termasuk tumbuhan berpembuluh, sehingga sering disebut tumbuhan berbiji saja. Biji yang menjadi ciri khas kelompok tumbuhan ini merupakan salah satu mekanisme perkembangbiakan yang dianggap maju atau canggih pada tumbuhan.
Biji terbentuk melalui proses fertilisasi antara sel gamet jantan dan betina. Jika dilihat secara evolusi, maka biji merupakan struktur pengganti spora. Akan tetapi, secara struktural biji merupakan struktur yang sangat kompleks.
Tumbuhan berbiji dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae).
Gymnospermae. Tumbuhan berbiji terbuka memiliki ciri khas berupa biji yang terbuka ke atmosfer. Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya struktur pelindung atau ruangan perkembangan biji yang disebut sebagai ovarium. Pembentukan biji pada tumbuhan berbiji terbuka terjadi melalui pembuahan tunggal, yaitu pertemuan antara sel kelamin jantan dan betina sebanyak satu kali.
Tumbuhan berbiji terbuka dibagi menjadi empat divisi, yaitu Cycadophyta (Sikadofita), Ginkgophyta (Ginkgofita), Coniferophyta (Koniferofita), dan Gnetophyta (Gnetofita).
1. Cycadophyta
Tumbuhan yang termasuk dalam divisi Cycadophyta memiliki ciri khas bentuk yang menyerupai palem. Batang tidak memiliki cabang dengan tangkai daun yang mendukung daun majemuk menyirip. Struktur reproduksi berupa strobilus. Ada juga yang menamakan Cycadophyta sebagai palem sagu.
Contoh dari divisi ini adalah pakis haji (Cycas rumphii).
[Insert Picture Cycas rumphii]
2. Ginkgophyta
Ginkgophyta merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki ciri khas daun berbentuk kipas dengan pertulangan daun yang dikotom (bercabang dua-dua). Ginkgophyta hanya terdiri dari satu spesies, yaitu Ginkgo biloba. Spesies ini sangat terkenak karena banyak digunakan sebagai bahan pembuat shampoo.
[Insert Picture Ginkgo biloba]
3. Coniferophyta
Conifer merupakan kelompok tumbuhan yang saat ini paling dominan di dunia. Anggota konifer merupakan penyusun hutan berdaun jarum. Hutan tersebut sangat luas dan didominasi oleh kelompok konifer berdaun jarum. Biasanya, hutan tersebut dinamakan dengan bioma taiga.
Reproduksi konifer, misalkan pinus, menggunakan organ yang dinamakan dengan strobilus. Strobilus terdiri dari dua macam, yaitu strobilus jantan dan betina. Strobilus jantan pada pinus berukuran kecil dibandingkan strobilus betina. Strobilus betina selain memiliki ukuran yang besar, juga memiliki struktur strobilus yang keras.
Salah satu contoh konifer adalah Pinus merkusii. Pinus merkusii merupakan salah satu komponen hutan tanam di Indonesia. Getah yang diproduksi oleh pinus dapat diambil dan digunakan sebagai bahan untuk membuat cat.
[Insert picture strobilus of Pinus merkusii]
4. Gnetophyta
Gnetophyta merupakan divisi yang dianggap paling maju diantara keempat divisi pada gymnospermae. Struktur anatomi yang mendekati angiospermae menjadi pertimbangan hal tersebut. Kemiripan tersebut terletak pada struktur pembuluh.
Gnetophyta tersebar dari daerah gurun hingga daerah dekat hutan hujan tropis. Genus Welwitschia merupakan semak gurun yang cukup populer di Afrika. Melinjo (Gnetum gnemon) sepintas tidak berbeda dengan angiospermae.
[Insert Picture Gnetum Gnemon] [Insert Picture Welwitschia]
Angiospermae. Angiospermae dikelompokkan berdasarkan persamaan adanya karpel atau daging buah yang menjadi pembungkus biji. Angiospermae merupakan kelompok tumbuhan yang paling beragam. Ada sekitar 250.000 spesies tumbuhan berbiji tertutup.
Tumbuhan berbiji tertutup sering dinamakan dengan antophyta (antofita), yaitu kelompok tumbuhan berbunga. Hal tersebut disebabkan karena organ reproduksi yang didukung oleh bunga. Bunga merupakan organ yang berfungsi untuk membantu proses penyerbukan. Bunga berperan sebagai penarik organisme yang berperan sebagai polinator (pembantu penyerbukan).
Bunga memiliki berbagai mekanisme untuk menarik perhatian polinator. Nektar merupakan mekanisme utama yang membuat berbagai polinator tertarik. Selain nektar, polinator juga memerlukan berbagai hal dari bunga. Salah satu contoh yang menarik adalah serangga yang ada pada pohon Ficus hispida. Bunga pada pohon ini terletak pada suatu struktur mirip periuk, sehingga serangga yang membutuhkan tempat menaruh telur akan masuk ke dalam periuk tersebut. Pergerakan di dalam periuk tersebut menyebabkan penyerbukan terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)